Adek baru aja pengumuman lulus UAN SMP. Nilainya kalo menurut aku pribadi, udah bagus karena jujur aja aku agak pesimis sama nilainya. hehehe. maaf ya dek.
Nilai emang selalu jadi parameter kelulusan entah dari kapan. Bukan cuma sekolah yang mendewa-dewakan nilai kelulusan, bahkan keluargaku juga. Wajar sebetulnya karena nilai itu yang nentuin bakal masuk ke sekolah mana, dll. Tapi sadar atau pura-pura nggak sadar, nilai itu nggak akan berubah, sampe kapan juga cuma angka. Buat nilai, jujur aja sampe digadaiin.
Mungkin adek emang nggak tau dan semoga nggak tau, seolah ada tuntutan untuk memberi yang terbaik versi beberapa orang. Dan tuntutan itu mutlak buat adek.
Apa pertimbangan itu juga udah mempertimbangkan yang bocor di luar sana? Kebocoran itu ditambel sama sesuatu yang bagus
Udah mempertimbangkan gimana susahnya memperjuangkan kejujuran dan harus bersaing dengan kebohongan massal?
Tapi coba bayangin,
Gimana rasanya ada kepuasan & kelegaan ketika kita dapetin nilai dengan jerih payah kita sendiri?
Gimana rasanya ketika kita bener-bener merasa 'ini loh tempat gue' tanpa harus ngerasa tertekan sama tuntutan nilai di sekolah baru itu?
Karena tekanan itu bakal ada kalo kompetensi kita 'seharusnya' bukan untuk di sekolah itu.
intermezo...
Satu doa paling berkesan (datengnya dari dia-yang-kaku, baca:adek) buat si kepala dua ini,
..... jadi kakak yg paling baik buat aku. amiin :)
Aku nggak tau udah ngasih apa selama ini buat memenuhi kriteria itu. Aku cuma pemain di belakang layar.
Aku juga punya harapan, dia-yang-kaku itu bisa ngomong 'ini loh tempat gue'.
Minggu, 03 Juni 2012
Selasa, 27 Maret 2012
Aku dan Kosong
Kira-kira dua minggu lalu, aku merasa kosong.
Aku lagi-lagi mengumpat pada diriku sendiri. Itu sudah yang kedua kalinya, sejak aku juga mengumpat diriku atau entah siapa lagi saat forum bendahara.
Entah jenuh pada rutinitas atau perasaan yang mendominasi pikiran? Egois rasanya hanya memedulikan perasaan di saat aku harus melakukan hal lain. Namun, dalam dua hari di minggu lalu itu, sisi egois itu tetap bertahan.
Rutinitasku saat itu bukan kuliah atau mengerjakan tugas kuliah, tapi mengejar narasumber. Aku senang dengan tantangan dan menurutku itu tantangan. Tidak ada paksaan untuk melakukan itu karena aku suka.
Satu hal yang sulit saat itu, MENULIS.
Saat itu, aku mulai paham bagaimana suiltnya menyatukan kemampuan dan kesukaan.
Aku selalu bilang, aku suka menulis dan ingin menjadi penulis.
Aku suka tantangan menjadi wartawan, mengejar narasumber, bertanya pertanyaan yang mungkin bodoh atau nyeleneh. Bukan hanya wawancara, tapi harus menuliskannya.
Hari itu aku kembali memikirkan dua hal itu.
Asumsi awalku, saat aku suka aku akan terus terpacu hingga akhirnya mampu, tapi hari itu aku bukan nana.
Bukan nana yang lantang memilih dastekben walaupun biologinya c, lantang terjun ke dunia jurnalistik walaupun entah apa yang benar-benar aku pahami dari dunia itu. Dengan asumsi awal SUKA bukan MAMPU.
Ibu salah satu yang membuatku berhasil keluar di situasi itu karena beliau lah yang turut 'campur tangan' dalam elemen suka dan mampu ini. Ia yakin aku bisa kalau aku suka dan aku meyakini itu.
Satu hal lagi yang hingga kini aku yakini, kosong itu hanya ketika aku jauh dari Allah SWT. Bukan ingin menggurui atau bersikap agamis, tapi itulah yang aku rasakan saat itu. KOSONG.
Aku lagi-lagi mengumpat pada diriku sendiri. Itu sudah yang kedua kalinya, sejak aku juga mengumpat diriku atau entah siapa lagi saat forum bendahara.
Entah jenuh pada rutinitas atau perasaan yang mendominasi pikiran? Egois rasanya hanya memedulikan perasaan di saat aku harus melakukan hal lain. Namun, dalam dua hari di minggu lalu itu, sisi egois itu tetap bertahan.
Rutinitasku saat itu bukan kuliah atau mengerjakan tugas kuliah, tapi mengejar narasumber. Aku senang dengan tantangan dan menurutku itu tantangan. Tidak ada paksaan untuk melakukan itu karena aku suka.
Satu hal yang sulit saat itu, MENULIS.
Saat itu, aku mulai paham bagaimana suiltnya menyatukan kemampuan dan kesukaan.
Aku selalu bilang, aku suka menulis dan ingin menjadi penulis.
Aku suka tantangan menjadi wartawan, mengejar narasumber, bertanya pertanyaan yang mungkin bodoh atau nyeleneh. Bukan hanya wawancara, tapi harus menuliskannya.
Hari itu aku kembali memikirkan dua hal itu.
Asumsi awalku, saat aku suka aku akan terus terpacu hingga akhirnya mampu, tapi hari itu aku bukan nana.
Bukan nana yang lantang memilih dastekben walaupun biologinya c, lantang terjun ke dunia jurnalistik walaupun entah apa yang benar-benar aku pahami dari dunia itu. Dengan asumsi awal SUKA bukan MAMPU.
Ibu salah satu yang membuatku berhasil keluar di situasi itu karena beliau lah yang turut 'campur tangan' dalam elemen suka dan mampu ini. Ia yakin aku bisa kalau aku suka dan aku meyakini itu.
Satu hal lagi yang hingga kini aku yakini, kosong itu hanya ketika aku jauh dari Allah SWT. Bukan ingin menggurui atau bersikap agamis, tapi itulah yang aku rasakan saat itu. KOSONG.
Jumat, 23 Desember 2011
Terima Kasih Sudah Mengkritik
Inaugurasi Korpus 20-21 Desember berjalan cukup alot waktu pengukuhan anggota, tepatnya alot sebelum tengah malem. Dipajang di depan, nggak boleh ngomong apa-apa. Tapi baguslah, jadi nggak perlu dan nggak ada orasi. Yang aku tunggu dari pengukuhan ini adalah kritikan. Aku emang seneng kalo dikritik. Tadinya aku sempet ngerasa aneh, kok bisa ya aku yang nggak suka digurui malah seneng dikritik. Hal itu bermula waktu aku minta kritik dan saran buat novel yang selesai aku buat. Aku seneng karena kritikan temen-temenku itu kritik yang membangun. Dari situ aku nyadar emang masih banyak yang perlu aku benerin dari novelku. Ada yang bilang, judulnya kurang mancing pembaca, imajinasi kurang, ceritanya kurang mendalam, dan bahkan lebih parah, nama tokohnya ganti-ganti karena aku kurang teliti waktu ngedit. hehe. Terima kasih buat anak Eksyar 47 yang udah mau baca novelku dan ngasih kritikan, walaupun sempet ada yang bilang, "Lo mau bikin mata gue jereng baca segini banyak halaman?" Tapi, akhirnya ngasih kritikan juga.
Pernah ada yang nanya sama aku, apa arti kata teman cukup membuatku mengalah? Waktu itu aku jawab, sekedar teman aja belum bisa buat aku mengalah, tapi kalo teman yang bisa kasih saran dan kritik yang membangun, baru aku bisa mengalah untuk ikutin saran yang dia kasih. Dan itu yang aku rasain waktu aku dapet giliran maju buat pengukuhan. Semua kekurangan dan sisi negatif yang dibeberkan sama anak korpus emang bener-bener nunjukin inilah aku. Aku yang belum berimbang waktu nulis berita, aku yang jutek, aku yang nge-geng (terkadang doang kok), dan aku yang pendiam. Aku jadi tahu harus bikin perbaikan di mana aja. Tanpa kritikan, rasanya nggak ada energi yang kuat udah melakukan perubahan. Terima kasih juga untuk anak Korpus yang udah ngasih kritikan.
Pengalaman adalah guru yang paling keras karena memberi ujian dulu baru pelajaran -Herien Priyono, Mind Writing-
Tinggal bagaimana kita membuat setiap pengalaman pada akhirnya menjadi kemenangan. Saat kita bisa bangkit setelah dikritik, berhasil setelah gagal, belajar setelah melewati ujian, bersyukur setelah apapun yang terjadi, itulah makna menang menurutku. Kok jadi ngomongin menang ya? Ya begitulah hubungan kritik dan menang menurutku. Mohon kritikannya buat tulisan ini :D
Sabtu, 10 Desember 2011
lemah untuk KUAT
Tulisan ini terinspirasi dari seorang sahabatku (yang diciptakan sebagai wanita) yang menuangkan isi hatinya lewat tulisan dan tangisan. Ia selalu terlihat riang di luar, tetapi nyatanya diliputi rasa sedih. Membaca tulisannya membuatku termenung sejenak dan menyimpulkan, wanita memang sosok yang tak terduga karena sensitivitasnya. Seperti yang dipaparkan Ummu Aulia dalam bukunya '7 Keajaiban Wanita', semua orang tahu wanita, tetapi tidak semua orang mengerti wanita.
Musang bisa berpura-pura mati saat dia merasa ada ancaman musuh. Wanita juga pintar berpura-pura. Ia pintar menyembunyikan perasaan di depan orang-orang yang ia mau, supaya orang itu tidak tahu bahwa ia sedang ada di titik kelemahannya.Waktu TPB, temen sekamarku Icot, bawa novel Let Go karangan Windhy Puspitadewi. Dia langsung nyerocos ngomongin salah satu tulisan di buku itu yang menurutnya bener-bener 'menyentuh hati'.
Ketika wanita menangis, itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya, melainkan senjata terakhirnya
Ketika wanita menangis, bukan berarti dia tidak berusaha menahan, melainkan karena pertahanannya sudah tidak mampu membendung air matanya
Ketika wanita menangis, itu bukan karena dia ingin terlihat lemah, melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuatAwalnya, aku ngerasa dari kalimat ini, seolah-olah wanita terlihat lemah banget. 'Kelemahan' yang terlihat itu sebetulnya adalah kekuatan. Wanita diciptakan bukan untuk menjadi sosok yang lemah, melainkan sosok yang kuat melebihi kaum laki-laki.
Senin, 21 November 2011
Pengalih Masalah Batin : FOKUS
Sesuatu yang dianggap masalah batin bisa lenyap gitu aja dengan beberapa tahap pelenyapan:
- Ngedumel: Kenapa mesti begini? Apa yang salah? Dan sederet pertanyaan keluhan lainnya
- Masuk kamar, naik tempat tidur, berusaha tidur
- Renungan miris karena dapet masalah itu. Terkadang mulut mau membuka lebar buat teriak. Tapi, inget salah satu hadits (Alhamdulillah. hehe), kalau lagi marah, baca "audzubillahi minasy syaithanir rajiim." Insya Allah marah mereda, setannya pergi. Kalau belum mempan juga, ambil wudhu, kata salah satu guru di sekolah dulu.
- Tarik napas untuk bisa berpikir jernih
- Inilah klimaksnya. FOKUS! Apa sebetulnya yang lagi dipengenin.
- Lenyaplah masalah yang ada
Fokus ternyata bisa ngendaliin perasaan hati yang berlebih dalam menyikapi masalah. Fokus sama tujuan yang ada, bisa bikin lupa sama masalah yang ada. Intinya, inget aja fokus kita apa, kalau perlu ditanam di pikiran kita sedalam-dalamnya tapi masih dalam jangkauan.
Sebetulnya, Allah nggak bakal nguji hamba-Nya melewati batas kemampuannya, tapi ya namanya juga manusia, suka khilaf, ingetnya belakangan. ngedumelnya duluan. hehehe
Minggu, 13 November 2011
Terima Kasih Untuk Lima Waktu-Nya
Tulisan minggu ini jauh beda dari sebelumnya, yang biasanya tentang opini, kritikan, dll. Tulisan kali ini cuma sekilas tentang satu hal yang mungkin jarang disadarin dan mungkin cuma sekadar ditunaikan aja, tapi dari hal ini, semua kenyataan dan masalah jadi tampak nyata. Setiap renungan yang ada pun bukan hanya renungan kosong, tapi ada solusinya.
Aku bersyukur ada SHALAT yang WAJIB ditunaikan
Bersyukur ada waktu ISTIRAHAT
Bersyukur dapat MELUPAKAN sejenak semua masalah yang ada
Bersyukur selalu ada tempat untuk MENGADU
Bersyukur selalu ada tempat untuk MEMINTA
Bersyukur ada LIMA waktu itu
Bersyukur semua itu diatur dengan DISIPLIN untuk mendisiplinkan
Bersyukur hingga saat ini MASIH dapat merasakan lima waktu itu
Sabtu, 05 November 2011
Mana Perilaku Syariahmu?
Udah tiga dosen yang berpesan bahwa mahasiswa Ekonomi Syariah harus berperilaku syariah juga, kami harus berbeda. Untuk mengubah suatu kebiasaan mau itu buruk atau baik, sama susahnya. Butuh niat dan kesadaran dari masing-masing individu.
"Kalian udah dewasa, seharusnya sudah tahu bagaimana seharusnya berperilaku," ujar salah satu dosen. Dewasa? Mungkin banyak yang belum tahu dirinya itu udah dewasa atau belum, kapan harus jadi dewasa. Timbul banyak pertanyaan. Dewasa itu proses atau pilihan? Aku bukan ngomongin dewasa dari segi fisik, tapi dari segi sikap dan pemikiran. Kalau yang aku rasain, dewasa itu proses dengan pilihan. Dari kecil sampai sekarang, udah banyak proses hidup yang dilalui, dari tiap proses pasti ada pilihan, ya pilihannya antara bersikap kayak anak kecil yang biasanya lebih ke nerima aja atau bersikap dewasa. Sekali lagi, ini nggak ada hubungannya sama umur atau fisik.
Waktu kelasku berisik, ada dosen yang tegas banget, tapi ada juga yang terlalu baik. Malu juga kalau dosen sampai nanya di mana perilaku syariah mahasiswanya. Aku juga cuma bisa bergumam. Mau gimana lagi, masing-masing orang udah punya kebiasaan masing-masing, walaupun masing-masing orang juga butuh dihormati.
Langganan:
Postingan (Atom)